Sidebar ADS

Skandal Liga Desa Jateng: Dugaan Manipulasi Pemain Hancurkan Mimpi Tim Kabupaten Semarang?

PEKALONGAN || Petanesia.com - Gelaran Liga Desa Jateng yang seharusnya menjadi panggung bagi talenta lokal, kini tercoreng oleh aksi protes keras dari tim Kabupaten Semarang. Dugaan praktik manipulasi domisili pemain yang dilakukan tim Desa Pakis Putih, Pekalongan, menjadi pemicu kekecewaan mendalam dan sorotan tajam terhadap integritas kompetisi.
 
Ketua Paguyuban Kades Hamong Projo Kabupaten Semarang, Samsudin (Doyok), tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. 

"Kami merasa dikhianati. Kesepakatan awal yang disepakati bersama di Technical Meeting, terkait kewajiban domisili pemain minimal dua tahun, ternyata hanya menjadi formalitas belaka," ujarnya dengan nada geram.
 
Nada serupa juga dilontarkan oleh Kepala Desa Banyubiru, Sri Anggoro Siswaji. Sebagai Official Team Banyubiru FC, ia telah melayangkan surat keberatan resmi kepada panitia Liga Desa, dilengkapi dengan bukti tak terbantahkan. 

"Hasil scanning data dari Disdukcapil Provinsi Jawa Tengah menunjukkan fakta mencengangkan. Mayoritas pemain lawan adalah pemain 'cabutan' yang baru terdaftar pindah ke desa tersebut pada 30 Desember 2025. Bahkan, ada yang datanya tidak tercatat sama sekali!" bebernya dalam keterangan tertulis, Rabu (7/1/2026).
 
Mimpi Pembinaan Talenta Desa Terancam?
 
Banyubiru FC berpendapat bahwa pelanggaran ini sangat serius. Aturan domisili dua tahun, yang disepakati dalam zoom meeting sebelum kompetisi, bertujuan untuk menjadikan Liga Desa sebagai wadah pembinaan bakat-bakat asli desa. Bukan ajang instan yang dimenangkan melalui transfer pemain dadakan.
 
"Kami ingin melihat pemain-pemain muda dari desa kami berkembang dan bersaing secara sehat. Bukan dicurangi dengan cara seperti ini," tegas Sri Anggoro.
 
Sementara warga Kabupaten Semarang mendesak panitia pelaksana Liga Desa untuk bertindak cepat dan tegas. Diskualifikasi tim yang terbukti melanggar aturan administrasi dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menjaga integritas turnamen.
 
"Jika dibiarkan, ini akan menjadi preseden buruk bagi Liga Desa di masa depan. Semangat sportivitas dan pembinaan akan hilang, digantikan dengan praktik-praktik kotor demi meraih kemenangan," imbuh Samsudin.
 
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia dan Official Tim Desa Pakis Putih belum memberikan tanggapan. Publik kini menanti langkah konkret dari panitia Liga Desa Jateng untuk menindaklanjuti skandal ini dan mengembalikan kepercayaan terhadap kompetisi. (VS/*)
 
 
أحدث أقدم
Sidebar ADS
Sidebar ADS